17
Sun, Dec
0 New Articles

Pajak E-Commerce Boleh, Tapi Jangan Bunuh Start Up

Tekno
Typography

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemberlakuan pajak baru merupakan salah satu sumber pendapatan bagi negara, namun pada sisi lain, persoalan pajak tersebut bisa jadi sesuatu yang menakutkan. Terutama ketika wacana pajak baru tersebut belum jelas.

Wacana pajak baru yang masih jadi pembicaraan hangat saat ini adalah pajak untuk pemain e-commerce. Kendati sudah muncul wacana penerapan pajak, masih belum jelas apakah yang akan terkena pajak tersebut nantinya e-commerce yang sudah besar atau masih berupa start-up.

Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) menyoroti wacana tersebut. Dalam Forum Usulan Roadmap E-Commerce Indonesia, di Hotel Double Tree, Senin (6/4/2015) sore, asosiasi mengungkap sudah sewajarnya sebuah usaha itu dipajaki namun pemerintah diharapkan memberi kemudahan berusaha bagi e-commerce dan lainnya yang masih tergolong pada start-up (perusahaan rintisan).

"Bukan soal insentif pajaknya, kita (start-up) gak mau dikecualikan. Tapi diberi kemudahan supaya orang filosofinya bilang 'gue mau buka e-commerce di Indonesia'," jelas Ketua idEA Daniel Tumiwa saat ditemui usai acara.

"Ini infant stage dan ada perkecualian sektor. Perkecualian sektor itu selalu ada di mana-mana. Yang kita perjuangkan adalah, bisa gak sektor ini dikecualikan," imbuhnya.

Pria berkacamata ini menjelaskan lebih lanjut, harapannya pemerintah bisa membangun suasana yang cocok untuk pertumbuhan perusahaan rintisan. Jangan sampai anak muda yang memiliki ide merintis start-up justru mengembangkan idenya di negara lain.

"Misalnya kalau ada anak ITB sekarang mulai (membangun start-up) dan dalam tiga tahun bisa jadi seperti William Tanuwijaya (pendiri Tokopedia), dalam waktu empat tahun sumbangan pajak dia akan jauh lebih besar dibandingkan kalau dia dipajaki hari ini lalu besok perusahaannya tutup," jelas Daniel.

"So, environment-nya harus dibikin supaya orang mau buka di sini. Kita ngomongin start-up kok. Boro-boro punya orang keuangan atau orang untuk lapor pajak," tegasnya.

Anak Muda Dirikanlah Start-Up Daniel berpesan, jangan sampai wacana pajak baru mengenai e-commerce malah membuat takut orang yang ingin mendirikan start-up baik e-commerce atau model lainnya. Anak muda yang memiliki ide, justru dianjurkannya untuk mulai mendirikan perusahaan rintisan.

"Sebagai anak muda sekarang saatnya bikin start up. Langkahnya masih panjang, lebih berani mengambil risiko karena belum banyak yang jadi beban. Karena ini adalah enterpreneurship. Kalau anak muda sekarang membutuhkan sesuatu tapi gak ada, ya mereka akan buat itu ada," terangnya.

Lebih lanjut, Daniel berpendapat bahwa Indonesia mestinya melahirkan pendiri-pendiri start-up yang menghasilkan juara. Start-up yang kemudian tumbuh besar itulah yang menurutnya akan menghasilkan bibit-bibit unggul untuk pertumbuhan usaha rintisan generasi berikutnya.

"Lihat anak buahnya Steve Jobs, semua yang telah keluar dari Google, semua yang keluar dari Facebook, mereka bikin start-up. Jadi kita masuk dalam generasi di mana sepuluh tahun ke depan, orang sejenis William (pendiri Tokopedia) ini mesti diadakan. Bukan mereka yang untung, tapi anak buahnya. Setelah lima tahun anak buah mereka keluar, lalu bikin start-up," terangnya memberi contoh.

"Kalau dipajaki sekarang, besok tutup, angkatan ini mati suri sebelum tumbuh," tutupnya.