25
Wed, Apr
36 New Articles

Facebook Diancam Denda, Senat AS Cecar Bos Facebook soal Skandal Data,

Tekno
Typography

WASHINGTON - CEO Facebok Inc Mark Zuckerberg pada Selasa waktu Amerika Serikat (AS) atau Rabu WIB (11/4) memberikan kesaksian di Kongres Amerika Serikat, menyusul skandal penggunaan data pribadi yang melilit jaringan media sosial miliknya.

Pria berusia 33 tahun itu menghadapi pertanyaan-pertanyaan dalam sidang bersama komite Perdagangan dan Peradilan Senat AS.

Ketua komite Perdagangan, Ilmu Pengetahuan dan Transportasi Senat AS John Thune, membuka sidang dengan nada keras.

Beberapa jam sebelum sidang berlangsung, orang-orang menunggu dalam antrean di dalam Gedung Kantor Senat Hart di sepanjang ruang sidang. Beberapa di antara mereka membawa kursi lipat, sementara lainnya berdiri atau duduk di lantai.

Di luar gedung Kongres, kelompok pemrotes daring Avaaz menjajarkan 100 guntingan gambar Zuckerberg sebesar badannya, yang mengenakan kaos bertuliskan "Fix Facebook".

Zuckerberg, yang mendirikan Facebook dari kamar asramanya di Universitas Harvard pada 2004, sedang berjuang membuktikan kepada para pengecamnya bahwa ia adalah orang yang tepat untuk terus memimpin perusahaan, yang telah berkembang menjadi salah satu yang terbesar di dunia.

Facebook menghadapi krisis kepercayaan di mata penggunanya, pemasang iklan, karyawan serta penanam modal setelah 87 juta penggunanya, yang sebagian besar tinggal di Amerika Serikat, disalahgunakan oleh Cambridge Analytica.

Cambridge Analytica adalah perusahaan konsultan politik, yang salah satu kliennya adalah tim kampanye pemilihan Presiden AS Donald Trump.

 

Didenda Lebih US$ 1 Miliar

Facebook (FB) bisa dikenai denda lebih US$ 1 miliar (Rp 13,7 triliun) oleh komisi perdagangan Amerika Serikat setelah terungkap pencurian 87 juta data pengguna, di antaranya 71 juta pengguna FB warga AS oleh Cambridge Analytica.

The Washington Post, Selasa (10/4) mengungkapkan wawancara dengan tiga mantan pejabat komisi perdagangan Amerika (FTC) bahwa FB bisa dinilai telah melanggar kesepakatan dengan komisi perdagangan AS tahun 2011 untuk melindungi kerahasian penggunanya.

"Pengungkapan Facebook pekan lalu bahwa alat pencariannya digunakan Cambridge Analytica, perusahaan konsultan politik, untuk mengumpulkan data pada sebagian besar dari 2,2 miliar penggunanya dapat berpotensi memicu rekor denda dan menciptakan kerentanan hukum baru karena tidak mencegah risiko terhadap data pengguna," kata tiga mantan pejabat FTC.

David Vladeck, salah satu mantan pejabat FTC Amerika Serikat yang diwawancarai The Washington Post dan kini menjadi profesor hukum Universitas Georgetown, memperkirakan bahwa Facebook bisa kena denda sebesar US$ 1 miliar bahkan lebih, atas terungkapnya pencurian data penggunanya oleh Cambridge Analytica, secara tidak sah.

Tiga mantan pejabat Komisi Perdagangan Federal Amerika itu mengatakan FB kemungkinan telah melanggar ketentuan kesepakatan yang mengharuskan FB melakukan program privasi, walaupun dibantah Facebook berulangkali.

"Kesepakatan dengan komisi perdagangan Amerika mengharuskan Facebook mengidentifikasi dan mengatasi ancaman yang muncul terhadap privasi pengguna," kata David Vladeck, yang menjadi kepala biro perlindungan konsumen FTC ketika kesepakatan itu disusun dan ditandatangani oleh Facebook.

"Itu berarti Facebook diminta untuk membatasi pemanfaatan data pengguna dan mencegah orang luar mendapatkan akses yang tidak benar," kata Valdeck.

Pertaruhan Facebook sangat tinggi karena meningkatnya pengawasan politik perusahaan di pemerintah pusat Washington DC, di mana Mark Zuckerberg CEO Facebook diharapkan bersaksi di depan komite kongres Senin ini.

 

Sumber: Reuters, Antara