17
Sun, Dec
0 New Articles

Edouard Philippe Ditunjuk Jadi PM Prancis

Politik
Typography

PARIS – Presiden Prancis Emmanuel Macron mengeluarkan keputusan perdana dengan memilih Edouard Philippe – walikota Le Havre dari kubu sayap kanan – sebagai perdana menteri (PM) pada Senin (15/5).

 

Philippe (46 tahun), adalah seorang anggota parlemen dan walikota dari kota pelabuhan di wilayah utara, Le Havre. Dia berasal dari partai Republik yang berhaluan sayap kanan dan dipandang sebagai seorang pragmatis.

 

Selain itu, menurut Macron (39 tahun), penunjukkan Philippe sebagai PM juga dipandang sebagai langkah strategis. Pasalnya, mantan menteri di pemerintahan sosialis itu sedang berusaha membujuk kaum modern dari semua garis untuk masuk ke par tai sentrisnya yang baru, La Republique en Marche (Gerakan Republik atau REM).

 

Adapun tugas pertamanya sebagai PM adalah membantu Macron untuk menyelesaikan pemilihan anggota kabinetnya untuk diumumkan pada Selasa (16/5).

 

Presiden baru Prancis itu menyampaikan menginginkan ada perpaduan antara anggota yang berpengalaman dan anggota baru untuk mencapai keseimbangan dalam daftar kandidat dalam pemilihan parlemen, pada 11- 18 Juni 2017.

 

Di sisi lain, presiden termuda Prancis itu sudah menarik perhatian puluhan anggota parlemen Sosialis untuk berada di sisinya, dan memicu penataan kembali politik Prancis besar-besaran yang membuat partaipartai tradisional harus berusaha lebih keras.

 

Saat mulai bekerja di kantor kepresidenan, pada Minggu (14/5), Macron mengaku memiliki tujuan memulihkan kepercayaan diri Prancis yang hancur. Sebagai sosok yang sangat pro-Eropa, dia juga mengatakan akan membantu membangun kembali Uni Eropa yang lesu.

 

Dia mengatakan ingin meyakinkan orang-orang bahwa Prancis berada pada awal kebangkitan yang luar biasa. Dunia dan Eropa akan membutuhkan Prancis lebih besar dari sebelumnya.

 

Macron sendiri sangat membutuhkan suara mayoritas parlemen untuk mendorong rencana ambisiusnya melonggarkan undang-undang ketenagakerjaan Prancis yang ketat, meningkatkan kewiraswastaan dan mengurangi kelas di lingkungan yang sulit.

 

Akan tetapi, partainya yang baru berusia satu tahun menghadapi tantangan kuat akibat kekalahan partai lain dalam pemilihan presiden, di mana Partai Republik, Front Nasional Le Pen, France Insoumise (France Unbowed) kiri keras dan kaum Sosialis kiri merencanakan balas dendam.

 

Kemudian dia bertolak ke Berlin, pada Senin, untuk melakukan pembicaraan dengan Kanselir Jerman Angela Merkel tentang bagaimana kedua negara kuat di Eropa dapat mendorong reformasi blok tersebut.

 

Lawatannya menemui Merkel tersebut sesuai dengan tradisi kepresidenan Prancis untuk menjadikan Berlin sebagai negara asing pertama yang menjadi persingahannya. Pada bulam ini, Macron juga akan melakukan pembicaraan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump – yang diyakini lebih memilih Le Pen ketimbang Macron – yang mengunjungi Brussels untuk pertemuan puncak NATO.

 

Seperti Macron, Philippe adalah lulusan perguruan tinggi elite Prancis, untuk pegawai negeri senior, ENA dan bekerja di sektor swasta dalam waktu singkat. Selain itu, dia relatif tidak terlalu dikenal di luar wilayah Le Havre dan pernah membelot dari Sosialis ke Republik saat menjadi politisi muda.

 

Meski demikian, menurut salah satu pembantu Macron penunjukkan Philippe merupakan langkah yang bagus, karena dapat membantu kinerjanya. Demikian laporan Investor Daily. (Tim/h)