17
Tue, Jul
0 New Articles

Pengamat Militer: Waspadai Pasca-Deklarasi Panmunjeon

Politik
Typography

SEOUL - Pertemuan dua pemimpin Korea, yakni antara Pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in di Panmunjeon pada Jumat (27/4) memberi harapan baru bagi perdamaian di Semenanjung Korea. Namun, pascapertemuan yang menghasilkan Deklarasi Panmunjeon paling tidak ada dua skenario yang menonjol.

“Pertama, skenario moderat untuk dunia global, yaitu meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Korea Utara menyusul pertemuan Donald Trump dan Kim Jong Un beberapa waktu mendatang,” ujar pengamat intelijen Susaningtyas NH Kertopati yang akrab disapa Nuning di Jakarta, Senin (30/4).

Dikatakan, Korea Utara membuka pintu terhadap Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA) untuk membuktikan janji denuklirisasi sekaligus membangun kepercayaan. Jika Korea Utara benar-benar menepati Deklarasi Panmunjeon, ujar Nuning, maka kompetisi di Asia Pasifik tinggal fokus menghadapi Tiongkok di Laut Cina Timur dan Laut Cina Selatan. Kedua Korea dan Jepang dapat menjadi sekutu baru bagi Amerika Serikat.

Kedua, ujarnya, adalah skenario ambiguitas, di mana Korea Utara tidak sepenuhnya menepati Deklarasi Panmunjeon akibat pengaruh baru Rusia. Perseteruan Korea Utara dan Amerika Serikat memasuki tahapan yang belum terbayangkan sebelumnya. Korea Utara tetap menjadi boneka Rusia menghadapi hegemoni Amerika Serikat di Pasifik Barat. Justru kekuatan Rusia bergeser ke pangkalan di Vladivostok untuk memberi tekanan baru ke Korea Utara.

“Kedua skenario dapat diuji dalam dua bulan pertama mengingat perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat memasuki babakan baru yang lebih serius. Tekanan dolar terhadap yuan, pekan lalu, sedikit banyak memengaruhi stabilitas rupiah. Pemerintah harus mewaspadai kemungkian pengalihan perhatian yang tertuju kepada Deklarasi Panmunjeon ketimbang perang dagang Tiongkok dan Amerika Serikat,” ujarnya.

Dalam pandangan Nuning, bila dicermati kawasan, maka ada tiga hal penting yang harus dikawal pasca-Deklarasi Panmunjeon soal perdamaian, kesejahteraan, dan unifikasi di Semenanjung Korea. Tiga hal penting itu adalah yaitu denuklirisasi, membangun kepercayaan (trust building), dan humanitarian supports.

Sementara, Indonesia harus lebih memperkuat basis pertahanan di bawah kerangka ASEAN Political-Security Community sekaligus menjalin kerja sama militer dengan negara yang jelas-jelas memiliki senjata nuklir dan memiliki hubungan emosional yang erat berlatar belakang sejarah.

“Ini untuk mencegah Indonesia sebagai medan pertempuran hegemoni Amerika Serikat dan Tiongkok dalam perspektif perang ekonomi. Indonesia merupakan arena kompetisi kedua negara untuk memperkokoh pengaruh mereka di kawasan Asia Tenggara,” kata Nuning.

Â

Sumber: BeritaSatu