Home Opini Pahlawan: Sejarah Megah Mutahir, Kadang Palsu

Pahlawan: Sejarah Megah Mutahir, Kadang Palsu

8 min read
0
0
253

Oleh:
Daniel Kaligis

Berita7.com – Gemuru gamang history. Tercatat sembilan tahun lalu pada kertas cakaran wawancara: Battle of Waterloo, menjadi perang terakhir bagi Napoleon Bonaparte. Medio 01 November punya cerita. Tatapmu menggelayut di Chocalaterie Canele Patisserie tembusi Pinoy Palace, memantul Vacheron Constantin, kaki-kaki gegas di Somerset.

Twilight pudar awan-awan musim nan mesra, Great-Billed Heron mengepak rindu serumpunnya terpenjara di Jurong. Kita, penikmat rimba beton kaca logam. Kutera dari ION Orchard.

Namun, gamang dijawab kawan. “Berakhir bagi Napoleon, awal kejayaan Duke of Wellington. Siang malam di kubungan lumpur, di awah guyur hujan. Stand like a hero and die bravely. Jendral Arthur Wellesley dikenang, Sint Helena menjadi penunggu Bonaparte hingga ajal menjemput. Let the dead be dead,” kata Bemalia Makaudis, yang pernah menetap di Tano Niha.

Hadia duria, Bem?

Api mengintip. Third World War hentar takut beribu manusia berdarah pahlawan sekali pun: pernahkah terpikirkan dalam hatimu untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang menggigil dihantam sistem?

Saya mengulanginya. O, iya. Sebelum lupa, ‘hadia duria’ artinya ‘apa kabar’ dalam bahasa Nias. Lanjut soal ‘gemuruh’ yang ada di bait pembuka.

Disorientasi medan laga: Senin, 06 Oktober 2014, sebuah film dokumenter ditayang televisi Perancis, Napoleon bingung dengan posisi pasukan pimpinan Duke of Wellington karena gagal membaca peta hingga skala satu kilometer akibat salah cetak. Konsekuensinya, Napoleon salah memandu gempuran artilerinya dan gagal mengenai pasukan gabungan Inggris, Prusia, Belanda.

Napoléon: www.huffingtonpost.co.uk

Pada 13 Maret 1815, Napoléon tiba di Paris, Kongres Wina menyatakannya sebagai penjahat, seperti yang dicatat dalam sebuah dokumen. Britania Raya, Rusia, Austria dan Prusia memobilisasi tentara mereka untuk gempur dan kalahkan Napoléon. (Hamilton-Williams, David p. 59).

Napoléon mengetahui bahwa sekali gagal untuk mencegah satu atau lebih dari sekutu-sekutu Koalisi Ketujuh maka kesempatan satu-satunya untuk tetap memegang kekuasaan adalah menyerang sebelum Koalisi sempat bergerak.

Inggris-Belanda-Jerman dipimpin Jenderal Wellington dan sekutu Prussia-nya di bawah Feldmarschall Blücher, menjungkal Napoleon dan mengakhiri kekuasaan seratus hari Napoleon, dan menjadi ujung dari Kekaisaran Perancis pertama, 22 Juni 1815. Ia pernah dianggap pahlawan, lalu tertawan dan jadi buangan.

History perang menjadi purba dalam ingatan hingga hari ini. Anak-anak memulung ceritanya dari ruang-ruang ketika orangtua-orangtua mengeja kebencian pada musuh, menuang pahlawan seperti dewa penyelamat dan penyegar memori dentum mesin pembasmi.

Padahal, pahlawan, manusia biasa. Punya banyak kekurangan seperti dirimu dan diri saya. Hanya bumbu cerita tak pernah mengungkap keteledorannya memandang hidup dan juang itu adalah bagi hidup menjadi lebih panjang dalam damai.

Pandangan saya terhadap pahlawan dan perang sangat dipengaruhi cerita dari ruang di mana saya hidup. Dari cerita orangtua saya, dari kisah tante dan oom saya, cerita dengan kawan dan sahabat, dari buku sejarah yang diterbitkan negara, dari berbagai sumber berita yang menderas sampai saat ini. Semua itu membentuk kenang dalam dendam tak berkesudahan.

Ayah. Pernah berkisah tentang laut dan kontra intelejen. Tentang ia dan kawannya menghadang gempuran laut di depan teluk Manado, manakala pergolakan Permesta memuncak. Oma Non di Tompaso-Dua pernah bercerita tentang ‘dinding bertelinga’. Orang tak boleh bicara sembarangan, nanti ditangkap dan dimakan Jin Kasuang.

Jiwa, menggigil dihantam sistem. Pahlawan itu jadi pertanyaan, kapan ia bangkit dari kemunafikan hari ini yang mengorupsi waktu, merampoki daya ingat, membodohi carapandang, mendirikan bangunan sejarah yang mewah mutahir namun palsu?

Api Third World War hentar takut berlaksa orang. Dan bumi, sebuah catatan menggelantung dalam obrolan di bilik-bilik peradaban. Lahir, berjuang, lalu mati. Dari rumah bambu di rawa-rawa tewasen Rendaina, di tepi Ciliwung Oud Batavia, pun di official residence and principal workplace The White House 1600 Pennsylvania Ave NW, Washington, DC 20500, United States. Obrolan masih sama.

Pemegang pena, catatan kritis dianggap perusuh. Buku-buku dibakar, hutan dibakar, mindset dibakar, issue dibakar. Pahlawan pegang senjata. Pahlawan itu militeristik. Pahlawan itu hendak disandingkan dengan “wajib” baris, wajib merayap, wajib tunduk pada sistem. Sehingga mereka yang cacat tubuh tak beroleh bagian dalam sebutan pahlawan. Penulis bukan pahlawan. Ilmuan juga mungkin bukan pahlawan. Perempuan-perempuan yang bekerja di sektor informal juga dianggap bukan pahlawan. Para buruh para seniman penyair dianggap tukang sihir.


SAJAK kupetik hari ini:


And I blame this world for making a good man evil
It’s this world that can drive a good man mad
And it’s this world that turns a killer into a hero
Well I blame this world for making a good man bad


Bon Jovi – Santa Fe


Jovi: www.jukebo.com

Dunia punya pandangan lain. Damai diatur oleh senjata dan mesin pembasmi. Perang hendak didamaikan juga dengan kekerasan dan mesin perang Pasukan Keamanan.


If we must have heroes and wars wherein to make them, there is no war so brilliant as a war with wrong; no hero so fit to be sung as he who has gained the bloodless victory of truth and mercy.”

― Horace Bushnell


Referensi:


https://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Waterloo
http://library.brown.edu/cds/napoleon/time7.html
http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/10/apa-biang-kekalahan-napoleon-di-pertempuran-waterloo


Load More Related Articles
Load More By abdul chaer
Load More In Opini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Meikarta CBD Kembali Serah Terima 408 Unit Tower Pasadena Bernilai 419 Miliar Tepat Waktu

Berita7.com, Cikarang – PT Lippo Cikarang Tbk kembali mewujudkan komitmen kepada konsumen …