18
Sun, Feb
0 New Articles

Melalui Musik, Glenn Fredly Terus Perjuangkan Persatuan dan Perdamaian

Nasional
Typography

Jakarta - Tahun 2018 adalah tahun politik karena akan ada ratusan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak yang dilaksanakan yang sekaligus menjadi ajang pemanasan menjelang pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

Menurut musisi Glenn Fredly, di tahun politik ini semua orang mempunyai kepentingan dengan benderanya masing-masing. Namun bagi dirinya persatuan dan perdamaian di atas segalanya.

“Kami punya message yang sangat kuat, kami sangat cinta dengan bangsa dan Negara ini. Karena itu kami ingin memperjuangkan persatuan bangsa dan Negara lewat musik, menyampaikan pesan perdamaian dan persatuan,” kata Glenn Fredly.

Glenn mengatakan hal itu usai mempersembahkan sebuah lagu dalam Perayaan Natal dan Ibadah Syukur di Ruang Konferensi MRCCC Siloam Jakarta, Rabu (17/1) malam.

Hadir dalam acara bertema “Hendaklah Damai Sejahtera Kristus Memerintah di dalam Hatimu”, dan subtema “Jadilah Jurnalis Kristus dan Wartakanlah Damai Sukacita bagi Sesama”, tokoh nasional Cosmas Batubara, budayawan Jaya Suprana, tokoh pers Leo Batubara, dan berbagai wartawan lintas organisasi.

Glenn meyakini bahwa musik mempunyai kekuatan untuk mempersatukan. “Dan ekosistem musik di Indonesia saat ini terutama generasi saya ke bawah mempunyai pemikiran yang sama untuk memberikan influens terhadap musik di Indonesia bahwa musik di Indonesia harus jadi alat pemersatu,” tandas Glenn.

Konflik Ambon

Penyanyi berdarah Ambon ini kemudian bersaksi bagaimana musik bisa jadi alat pemersatu. Glenn bercerita betapa syoknya ketika pecah konflik Ambon tahun 2000 silam. Ia yang sejak kecil diajarkan tentang Pela Gandong, bagaimana hubungan kekerabatan dan persaudaraan menjadi semangat masyarakat tergoyahkan.

“Tahun 2000 saya pulang ke Ambon saat konflik terjadi. Penumpang di pesawat tidak tidur, saling melepas rindu berpelukan ada yang pakai hijab, bener-bener melepas rindu. Saya bingung ini kok gak ada apa-apa, baik-baik saja,” katanya.

Ketika tiba di Ambon, lanjut Glenn, begitu turun dari pesawat dirinya syok, kaget. “Karena begitu keluar saya dimintai KTP, Kristen ke kanan Muslim ke kiri. Di situ saya bingung saya tinggal di mana ini, di Indonesia yang diajarkan Pancasila yang menghormati keberagaman, kebinekaan, terjadi perang luar biasa yang memecah bangsa,” sambungnya.

Glenn melanjutkan kisahnya. Di Ambon, selama tiga hari ia tinggal di zona aman. Meski demikian tiga hari dirinya tidak bisa tidur. ”Kita dengar bangku jatuh aja kaget. Tiga hari itu saya denger bom, tembakan, dan dentuman. Tidak bisa buka jendela tidak bisa kemana-mana, benar-bener saya syok,” paparnya.

Singkat cerita setelah tiga hari itu Glenn pun pulang ke Jakarta. Dia mengaku bingung mau bercerita kepada siapa. Ke orangtua tidak mungkin. “Karena waktu saya mau berangkat mereka nangis-nangis Glenn jangan berangkat kamu berangkat kamu dead. Tapi saya bilang tidak, saya harus berangkat. Sebagai anak yang dibesarkan dengan budaya Pela Gandong sejak kecil. Maka waktu pulang saya gak bisa cerita dengan orangtua saya,” ucapnya.

Konser perdamaian

Di Jakarta, Glenn melanjutkan kisahnya, kehidupan berjalan seperti biasa. Tapi berita yang dia dengar dari Ambon betapa luar biasa sengsaranya akibat peristiawa itu. Syukurlah sekitar 4 tahun pascakonflik, benih perdamaian mulai tumbuh.

“Empat tahun konflik terjadi, tahun 2005 konser musik perdana yang terjadi di Ambon dihadiri lebih dari 350 ribu manusia. Di atas puing-puing kota saya lihat manusia..bagimana musik, how powerfull music it is. Bagaimana yang dulunya hancur lebur luluh lantak, tapi dengan musik bisa kembali bersatu. Bagaimana budaya mempersatukan masyarakat,”ucapnya.

Dari peristiwa itu Glenn menyakini bahwa musik bukan sekadar hiburan tapi musik jadi bagian penting penjaga pilar peradaban bangsa ini.

“Hari ini Ambon dinyatakan sebagai kota musik. Dan harapannya tahun 2019 bisa dijadikan situs kota musik dunia oleh Unesco. Ini perjalanan panjang buat Ambon. Dari puing rata dengan tanah sekarang musik menjadi sebuah kekuatan untuk menyatukan masyarakat di sana, terutama anak muda,” ungkapnya.

Ke depan nanti, menurut Glenn, akan diresmikan dua universitas sebagai infrastruktur musik. Universitas Patimura akan dijadikan pusat kajian metodologis, pertama di Indonesia. Selain itu, juga akan dibuka fakultas musik di Institute Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, untuk dijadikan pusat kajian etnomusikologi.

“Tanggal 6-9 Maret tahun ini akan ada konfernesi musik Indonesia pertama, dan itu akan mempertemukan semua stakeholder musik di Indonesia,” katanya.

Glenn berharap pada konferensi musik tersebut ia bisa pertama, mengintegrasikan khusus musik. Kedua, menjadikan music sebagai alat pemersatu dan untuk membangun peradaban kebudayaan bangsa. “Dan yang paling penting bagaimana lewat musik pendidikan jadi pilar penting, serta mendorong Ambon jadi pusat musik dunia,” ujarnya.

Menutup kesaksiannya, Glenn Fredly melantunkan lagu “Pancasila Rumah Kita” ciptaan mendiang Franky Sahilatua. “Lagu ini yang menginspirasi saya. Dan kebetulan orang pertama yang saya ajak omong sepulang dari Ambon adalah Franky. Ia merupakan salah satu mususi yang memperjuangkan lahirnya UU kemajuan kebudayaan Indonesia,” pungkasnya.

 

 

Sumber: Investor Daily