17
Sun, Dec
0 New Articles

Meikarta Terobosan Untuk Suplai Kebutuhan Hunian

Nasional
Typography

Jakarta - CEO Lippo Group, James Riady, mengatakan, proyek Meikarta merupakan suatu terobosan untuk menyuplai kebutuhan hunian dengan harga terjangkau di Indonesia. Lippo Group, meluncurkan Meikarta dengan jumlah unit yang sangat besar untuk mengakomodasi permintaan (demand) di pasar.

“Seperti diketahui, saat ini demand terbesar datang dari segmen masyarakat menengah ke bawah. Kita mau menyediakan hunian dalam volume yang besar," kata James Riady, dalam acara Property Leaders Dialogue di Jakarta, Rabu (1/11). .

James mengatakan, harga jual Meikarta sebesar Rp 7 juta per meter persegi (m2) sangat terjangkau untuk sebuah hunian di kawasan emas seperti Cikarang. Apalagi, Lippo menggandeng pengembang asal Jepang, Mitsubishi untuk mengembangkan central business district (CBD) Meikarta.

"Hunian semacam Meikarta dengan fasilitas yang mewah selayaknya dijual dengan harga sekitar Rp 16 juta sampai Rp18 juta per meter persegi (m2). Namun, jika tetap memakai skema seperti itu, Lippo hanya bisa menjual 200 unit per tahun,”jelasnya.

Untuk itu, kata James Riady, Lippo melakukan terobosan dengan menggandeng 30 kontraktor lokal dan asing kelas medium. Hasilnya, biaya produksi bisa ditekan sehingga harga jual unit lebih murah. "Dengan inovasi itu kita bisa jual harga rata-rata Rp 6,7 juta per m2 dan dengan cost of production di bawah itu. Kita ingin volume yang besar," paparnya.

Pada tahap awal peluncuran, Lippo melakukan test pasar terhadap karyawan internal. Dengan menjual hunian seharga Rp 7 juta per m2, penjualan mencapai 16.000 unit hanya dalam jangka waktu singkat. James menyebutkan, langkah ini merupakan sebuah pencapaian yang sangat baik. "Meikarta bukan hanya dikenal di Indonesia, namun juga sampai luar negeri,” katanya.

Lebih lanjut, James Riady mengatakan, harga properti di Indonesia relatif lebih murah dibandingkan negara lain seperti Singapura. Pasokan hunian di Indonesia juga lebih besar dibandingkan negara lain. "Itulah kenapa pasar di Indonesia tetap menjadi yang terbaik," ujarnya.

Senior Technical Advisor Savills, Lucy Rumantir, mengatakan, tahun 2018 sampai 2019 pasar properti diperkirakan masih lesu karena tahun politik. Namun demikian, lanjut dia, permintaan untuk kelas menengah ke bawah sangat besar.

"Meikarta itu bagus karena menggarap pasar yang sedang besar. Mestinya dalam dua tahun ke depan ini sukses penjualannya," katanya.

 

 

Sumber: Berita Satu