20
Fri, Jul
0 New Articles

Jaksa KPK Ungkap Peran Bimanesh Terkait Kecelakaan Novanto

Hukum
Typography

JAKARTA - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendakwa dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau (RSMPH) Bimanesh Sutardjo telah merintangi proses penyidikan kasus dugaan korupsi proyek e-KTP yang menjerat mantan Ketua DPR, Setya Novanto. Bimanesh merintangi penyidikan bersama-sama dengan pengacara Fredrich Yunadi yang merupakan mantan kuasa hukum Novanto.

"Terdakwa turut serta merintangi, menggagalkan secara langsung penyidikan terhadap tersangka dalam perkara korupsi," kata Jaksa KPK, Kresno Anto Wibowo saat membacakan surat dakwaan terhadap Bimanesh di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (8/3).

Jaksa menyatakan, Bimanesh bersama-sama dengan Fredrich telah melakukan rekayasa agar Novanto dirawat di Rumah Sakit Medika Permata Hijau. Rekayasa itu dilakukan agar Novanto yang ketika itu berstatus tersangka kasus dugaan korupsi e-KTP dapat menghindari pemeriksaan penyidik KPK. Dalam surat dakwaan ini, Jaksa KPK menguraikan Fredrich yang merupakan pengacara Novanto menghubungi Bimanesh pada 16 November 2017.

Saat itu Fredrich meminta ‎bantuan agar Novanto dapat dirawat inap di RS Medika Permata Hijau dengan diagnosa menderita hipertensi. Kemudian, Fredrich juga memberikan foto data rekam medik Novanto di RS Premier Jatinegara yang difoto beberapa hari sebelumnya. Bimanesh menyanggupi permintaan Fredrich. Padahal, Bimanesh‎ mengetahui Novanto sedang memiliki menjalani proses hukum di KPK terkait kasus korupsi pengadaan e-KTP.

Menindaklanjuti permintaan Fredrich, Bimanesh kemudian menghubungi dokter Alia yang saat itu menjabat sebagai Plt. Manajer ‎Pelayanan Medik RS Medika Permata Hijau. Lalu, Bimanesh meminta agar disiapkan ruang VIP untuk rawat inap pasien atas nama Novanto.‎

Novanto sendiri direncanakan akan masuk rumah sakit dengan diagnosa penyakit hipertensi berat. Padahal Bimanesh belum pernah memeriksa kondisi kesehatan Novanto.

Kepada dokter Alia, Bimanesh mengaku sudah menghubungi dokter lainnya untuk melakukan perawatan bersama terhadap Novanto. Kedua dokter itu yakni Mohammad Toyibi dan Joko Sanyoto. Kedua dokter itu diketahui‎ tak pernah diberitahukan oleh Bimanesh.

Kemudian, Bimanesh datang ke RS Medika Permata Hijau sekitar pukul 18.30 dan menemui dokter Michael Chia Cahaya. Dokter Michael Chia memberitahu bahwa Fredrich datang meminta surat pengantar rawat inap dari IGD dengan keterangan kecelakaan mobil. Namun, permintaan itu ditolak dokter Michael Chia lantaran belum memeriksa Setya Novanto.

Atas penolakan itu, Bimanesh membuat surat pengantar rawat inap menggunakan form surat pasien baru IGD. ‎Padahal Bimanesh bukan dokter jaga IGD. Dalam surat pengantar rawat inap ini, Bimanesh menuliskan diagnosis hipertensi, vertigo, dan diabetes melitus sekaligus membuat catatan harian dokter yang merupakan catatan hasil pemeriksaan awal terhadap pasien.

"Padahal dokter Bimanesh belum pernah memeriksa Novanto, maupun tidak mendapatkan konfirmasi dari dokter yang menangani Novanto sebelumnya dari RS Premier Jatinegara," tutur jaksa.

Sekitar pukul 18.45 WIB, Novanto tiba di RS Medika Permata Hijau. Novanto kemudian langsung dibawa ke kamar VIP 323, sesuai dengan surat pengantar rawat inap yang dibuat Bimanesh.

Setelah Novanto berada di kamar VIP 323, Bimanesh memerintahkan seorang perawat bernama Indri Astuti agar surat pengantar rawat inap dari IGD yang telah dibuatnya dibuang dan diganti baru dengan ‎surat pengantar dari Poli yang diisi oleh Bimanesh. Padahal, sore itu bukan jadwal praktek dokter Bimanesh.

Bimanesh juga disebut menyuruh perawat Indri untuk pura-pura memasang perban di kepala Novanto. "Terdakwa meminta Indri agar luka di kepala Setya Novanto diperban sesuai dengan permintaan Setya Novanto," tutur Jaksa Kresno.‎

Tak hanya itu, Bimanesh juga menyuruh agar Indri pura-pura memasang infus kepada Setya Novanto. Indri kemudian memasang infus yang biasanya dipergunakan untuk anak kecil.

"Yakni hanya sekedar ditempel saja. Namun Indri tetap melakukan pemasangan infus menggunakan jarum kecil ukuran 24 yang biasa digunakan untuk anak kecil," ungkap Jaksa KPK.

Setelah perban dan infus terpasang, Fredrich kemudian tiba di RS Medika Permata Hijau. Kehadiran Fredrich itu seolah dirinya tak mengetahui adanya kecelakaan yang dialami Novanto pada 16 November 2017 lalu di kawasan Permata Hijau.

"Kemudian Fredrich Yunadi memberikan keterangan pada pers dengan menyebut Setya Novanto luka parah dan beberapa bagian tubuh berdarah-darah serta terdapat benjolan segede ‘bakpao’ di dahi," ungkap Jaksa Kresno.

Keterangan pers yang dilakukan oleh Fredrich dinilai jaksa tak sesuai dengan keadaan Novanto saat itu. Dimana Novanto hanya mengalami luka ringan.‎

"Padahal Setya Novanto hanya mengalami beberapa luka ringan pada bagian dahi, pelipis kiri, leher sebelah kiri, dan lengan kiri," tegasnya.

Atas tindak pidana yang dilakukannya, Bimanesh didakwa melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.‎

Â

Sumber: Suara Pembaruan

Â

Â