17
Sun, Dec
0 New Articles

TKW Indonesia di Hong Kong Jadi Incaran Kelompok Radikal

Hukum
Typography

Jakarta- Pemerintah Indonesia perlu bekerja sama dengan agen perekrut tenaga kerja luar negeri dan para pihak terkait termasuk organisasi atau lembaga yang bergerak di bidang tenaga kerja untuk memastikan para pekerja migram, khususnya wanita tidak ditarik masuk dalam kelompok radikal atau ekstremis.

Radikalisasi para pekerja wanita (tenaga kerja wanita/TKW) Indonesia di Hong Kong sebagaimana laporan terkini dari Institute Analis Kebijakan Konflik (IPAC) menyebutkan, sekitar 50 pekerja rumah tangga yang tergabung dalam kelompok radikal telah bergerilya di tengah 153.000 para pekerja migram Indonesia yang berada di Hong Kong.

"Beberapa dari para perempuan ini diajak bergabung oleh kaum jihadis yang menjadi pacar mereka lewat jaringan online. Namun, beberapa lainnya bergabung dengan ISIS sebagai jalan untuk memperkuat," ujar analis IPAC Nava Nuraniyah, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (26/7).

Laporan tersebut menyebutkan, peningkatan perekrutan para pekerja wanita Muslim Indonesia di Hong Kong untuk masuk jaringan radikal ini meningkat tiga kali lipat sejak tahun 2000 sejalan dengan peningkatan permintaan pembantu rumah tangga di Hong Kong.

Dikatakan, peningkatan komunitas Muslim Indonesia di Hong Kong ini juga diikuti dengan peningkatan kegiatan kerohanian (dakwah) oleh ustaz Indonesia, dimulai dari yang moderat namun secara bertahap menuju yang bersifat ideologi termasuk Salafi dan jihadi. Para wanita Indonesia tersebut menemukan teman-teman mereka di kelompok dakwah ini yang kerap bertindak sebagai pengganti keluarga mereka. Jika satu orang berhasil diajak masuk dalam jaringan radikal  maka yang lainnya akan mengikutinya.

Dalam beberapa kasus, persoalan pribadi menjadi dorongan untuk melakukan pencarian kelahiran kembali dan pembaruan melalui "pemurnian" Islam, namun konflik Suriah justru yang menarik beberapa wanita untuk mendukng Negara Islam (Islamic State). Mereka melihat para pejuang sebagai pahlawan dan mendorong mereka untuk menawarkan bantuan logistik dan keuangan.

Beberapa di antaranya malah mengembangkan hubungan pribadi secara online dengan para pejuang yang kemudian membantu mereka untuk masuk ke Suriah atau bergabung dengan mereka di Suriah. Beberapa di antaranya akhirnya dieksploitasi oleh pacar yang dikenal via online, termasuk mereka yang ditahan di penjara-penjara di Indonesia, yang menjadikan para pekerja wanita ini sebagai pemasok uang yang tak akan berakhir.

IPAC meminta pemerintah Indonesia bekerja sama dengan agen-agen penyalur tenaga kerja luar negeri dan kelompok-kelompok hak migran termasuk modul-modul pelatihan yang mengingatkan para pekerja wanita Indoensia akan risiko eksploitasi oleh para pria yang tergabung dalam kelompok radikal.

IPAC juga meminta konsuler Indonesia di Hong Kong untuk bekerja lebih erat lagi dengan ulama setempat dan otoritas Hong Kong untuk memastikan bahwa para ulama atau ustaz radikal yang sudah diketahui tidak diberikan visa untuk menyebarkan kebencian di kalangan komunitas pekerja migran.

"Pada akhirnya mitra terbaik bagi pemerintah Indonesia dan Hong Kong untuk mencegah radikalisasi di kalangan pekerja migran adalah komunitas Muslim yang lebih luaas itu sendiri," ujar Nuraniyah. (Tim/h)