17
Tue, Jul
0 New Articles

8 dari 12 Tersangka Ditahan, Perusuh Bukan Warga Yogyakarta

Hukum
Typography

YOGYAKARTA - Kepolisian DI Yogyakarta (Polda DIY) telah menetapkan 12 tersangka dari 69 pelaku aksi anarkistis saat demo Hari Buruh Selasa (1/5). Dari 12 tersangka, delapan orang ditahan, sedangkan empat tersangka hanya menjadi tahanan kota.

Delapan tersangka yang ditahan adalah AM asal Bandung, MC asal NTT, MI asal Kalimantan Barat, BV asal Sulawesi Utara, WAP asal Wonogiri, ZW asal Sumatra Barat, EA asal Karanganyar, dan AMH asal Jombang. Empat tersangka yang menjalani tahanan kota adalah MS, RAP, HSB, dan MA.

Kabid Humas Polda DIY, AKBP Yulianto di Yogyakarta, Kamis (3/5), mengatakan tidak ada satu pun dari 12 tersangka yang berasal dari Yogyakarta.

"Tersangka dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta, tetapi asal tersangka bukan dari Yogyakarta," katanya.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda DIY, Kombes Pol Hadi Utomo mengatakan jumlah tersangka demo anarkistis bertambah menjadi 12 orang. Sebelumnya, Polda DIY menetapkan tiga tersangka kasus kericuhan dan satu tersangka dari massa yang beraksi karena positif menggunakan narkoba dan belakangan diketahui terlibat kericuhan.

Hadi Utomo memerinci peran delapan tersangka yang ditahan. Pihaknya menahan MC (25), mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, sebagai koordinator aksi; AM (24), mahasiswa Sanata Dharma yang melempar bom molotov ke pos polisi;Â MI (22), mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang memukul seng pos polisi dengan tongkat besi; BV (24) bekerja sebagai tukang sablon yang melempar bom molotov ke pos polisi dan sepeda motor polisi; WAP (24), mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) yang menendang water barrier dalam pos polisi yang terbakar; ZW (22) mahasiswa UII yang mematahkan rambu lalu lintas; EA (22), mahasiswa Mercubuana yang menyeret payung pos lalu lintas ke tengah jalan dan memukul pos polisi; serta AMH (20) mahasiswa UII yang memukul pos polisi dengan kayu, melempar petasan, dan mematahkan rambu lalu lintas.

Para tersangka ditahan atas tuduhan pelanggaran pasal yang berbeda-beda dan lebih dari satu pasal, di antaranya adalah pasal 187, 170, dan 406 KUHP dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara.

"Pekan depan berkas sudah kami serahkan ke jaksa penuntut umum untuk dilakukan penelitian," kata Hadi Utomo.

Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik (Kesbangpol) DIY Agung Supriyono mengatakan demonstrasi di simpang tiga Kampus UIN Sunan Kalijaga ditunggangi pihak-pihak yang ingin melakukan upaya disintegrasi bangsa. DIY dipilih karena menjadi barometer nasional, dan jika berhasil dilaksanakan di Bumi Mataram, gerakan serupa dinilai akan sukses di daerah lain.

Agung menduga demonstrasi yang disertai aksi anarkistis juga memiliki tujuan politik. Namun, sampai saat ini belum diketahui apakah ada partai politik yang mendalangi aksi tersebut.

"Aksi itu memang sengaja didesain untuk rusuh. Kesbangpol DIY mendapat informasi, salah satu peserta aksi bukan mahasiswa, sehingga bisa dikatakan ada penyusupan. Usaha dari pihak yang menginginkan ketidakstabilan di DIY tak akan mempan, sebab DIY punya persatuan, kesatuan, jiwa besar, dan berpredikat sebagai city of tolerance," tegasnya.

Â

Sumber: Suara Pembaruan