25
Wed, Apr
36 New Articles

Konsumsi Miras Oplosan, Hingga Kini Sudah 30 Orang Meninggal di Bandung Raya

Hukum
Typography

BANDUNG - Sedikitnya 30 orang meninggal dunia akibat mengonsumsi minuman keras oplosan pada akhir pekan lalu. Para korban ini tersebar di Kota Bandung serta wilayah Cicalengka dan Majalaya di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Berdasarkan data dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), kasus kematian akibat mengonsumsi minuman keras oplosan ini sudah mencapai 80 orang sejak awal tahun 2018. Para korban ini tersebar di beberapa wilayah. Sebanyak 34 orang di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi, 9 orang di Padalarang, 6 orang di Papua, serta 30 orang di wilayah Bandung Raya pada akhir dan awal pekan ini.

Korban meninggal terbanyak berasal dari wilayah Cicalengka, Kabupaten Bandung yang bisa ditempuh sekitar 90 menit dari Kota Bandung.

Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Cicalengka, Yani Sumpena mengatakan pihaknya menerima pasien dengan keluhan keracunan alkohol sejak Jumat, 6 April 2018 lalu. Gelombang pasien pertama sebanyak delapan orang, disusul sehari kemudian sebanyak enam orang, dan pada Minggu, 8 April 2018, menyusul 17 pasien.

“Total yang meninggal ada 24 orang, di mana satu di antaranya meninggal saat dalam perjalanan menuju rumah sakit. Pasien yang meninggal itu juga masuk dalam data pasien yang kami terima hingga saat ini sudah ada 61 orang,” kata Yani kepada SP di Bandung, Senin (9/4) malam.

Para korban ini berusia antara 19-52 tahun. Satu dari 24 korban meninggal dunia itu berjenis kelamin perempuan. “Penyebab kematian mereka itu secara umum adanya intoksifikasi atau keracunan yang berakibat pada kegagalan fungsi organ dalam,” terang Yani sembari menambahkan gejala umum pada korban adalah mual-mual serta muntah-muntah hingga mengalami penurunan kesadaran.

Kejadian serupa terjadi di Majalaya, Kabupaten Bandung dan Kota Bandung. Di masing-masing wilayah itu ada tiga korban meninggal dunia. Penyebab kematian mereka itu secara umum adanya intoksifikasi atau keracunan yang berakibat pada kegagalan fungsi organ dalam.

Untuk mengatasi lonjakan pasien ini, Yani mengungkapkan, pihaknya sampai membuka posko layanan di luar fasilitas rumah sakit yang sudah ada. “Karena pelayanan kita tidak hanya pasien intoksifikasi alkohol tapi ada juga pasien yang lain,” ujar Yani.

Sebelumnya, rumah sakit di Cicalengka ini pernah menangani kasus serupa pada tahun 2015 lalu. Kejadiannya pada saat malam takbiran Idul Fitri. Saat itu, pihak rumah sakit merawat 12 orang. Enam pasien meninggal dunia.

Masih di Kabupaten Bandung, laporan korban meninggal dunia datang dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Majalaya. Direktur Umum RSUD Majalaya, Grace Mediana memaparkan, pihaknya menerima enam pasien dengan keluhan keracunan alkohol. “Tiga meninggal dunia,” ujar Grace.

Terkait kasus kematian tiga orang yang diduga mengonsumsi minuman keras oplosan di Kota Bandung, Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Bandung, Komisaris Besar Hendro Pandowo sudah menangkap seorang penjual minuman keras oplosan di Kecamatan Buah Batu, Bandung.

Dalam penangkapan itu, polisi juga mengamankan puluhan minuman di botol bekas air mineral yang berwarna kuning dan bening. “Mereka meminum miras oplosan di Rancabolang, Buah Batu,” kata Hendro.

Ketiga warga Rancabolang itu, ungkap Hendro, membeli minuman keras oplosan dari seorang pedagang di Jalan Soekarno Hatta, Bandung pada Sabtu, 7 April 2018. Para korban baru merasa mual-mual dan memperlihatkan gejala kejang-kejang pada keesokan harinya. Mereka dibawa pihak keluarga ke rumah sakit. “Sempat dirawat tapi nyawa ketiga korban tidak tertolong,” terang Hendro.

Polisi saat ini masih melakukan pemeriksaan terhadap A, penjual minuman keras oplosan yang diduga mengakibatkan kematian pada tiga warga Rancabolang tersebut. 

 

Sumber: Suara Pemabruan