17
Sun, Dec
0 New Articles

Menperin: Indonesia Semakin Kokoh Sebagai Basis Produksi Sepatu untuk Pasar Global

Ekonomi
Typography
CIANJUR, Berita7.com  -  Industri alas kaki terus menggeliat dan menarik investasi asing untuk memperluas pabrik bahkan membangun fasilitas produksi baru. Sepanjang semester I 2015, para pebisnis menanamkan modal di industri ini hingga USD 67,3 juta atau sekitar Rp 905 miliar.
 
Capaian ini melanjutkan tren positif paling tidak selama 3 tahun terakhir. Investasi industri alas kaki dari 2011 hingga 2014 naik rata-rata 4,74 persen.
 
"Dari sisi produksi juga terus membaik, impor alas kaki semakin turun dan sebaliknya ekspor naik. Melihat ini saya yakin kita mampu berdikari, kita berdiri di atas sepatu buatan Indonesia sendiri," seloroh Menteri Perindustrian Saleh Husin di hadapan ribuan karyawan dan direksi PT Pou Yuen Indonesia di Cianjur, Jawa Barat, Selasa (27/10/2015).
 
Menperin hadir untuk meresmikan pabrik milik perusahaan asal Taiwan yang memproduksi sepatu merek Nike. Turut hadir Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri, Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, Sekda Kabupaten Cianjur, dan Dirjen Industri Kimia, Tekstil dan Aneka Kemenperin Harjanto.
 
Peresmian juga disaksikan General Manager Pou Yuen Indonesia, Prince Tee, perwakilan Nike Asia Claire Wahl, perwakilan Nike Indonesia, Collette Hemmings.
 
Secara umum, total kinerja perdagangan industri alas kaki sampai dengan Juli 2015 dibandingkan periode tahun sebelumnya cukup memuaskan, yaitu surplus 10,5 persen.
Sepatu dan alas kaki produk Tanah Air dikapalkan kelima negara tujuan ekspor utama yaitu Amerika Serikat, Belgia, Jerman, Inggris dan Jepang.
 
Sampai Juli 2015, ekspor produk alas kaki telah mencapai USD 2,6 miliar atau sekira Rp 35,1 triliun dengan perhitungan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sebesar Rp 13.500. Sementara, nilai impornya dalam dua tahun terakhir justru susut 6,07 persen. Secara kumulatif, nilai impor produk alas kaki mencapai USD 254 juta sampai dengan Juli 2015.
 
"Industri alas kaki ini juga penyumbang lapangan kerja massal alias padat karya," terang Menperin. Total tenaga kerja yang diserap mencapai 700 ribu orang.
 
Saleh Husin juga mengajak masyarakat untuk membeli sepatu dalam negeri agar industri ini semakin kuat. Produsen juga didorong meningkatkan kualitas dan desain agar produknya diterima serta dapat dibanggakan oleh konsumen.   
 
Menaker Hanif Dhakiri turut mendorong industri sepatu agar investasi terus mengalir dan lapangan kerja massal tercipta. "Daya saing industri harus tinggi agar memenangi persaingan dengan Vietnam yang merupakan juga pemain industri sepatu dunia," terangnya.
 
PRODUKSI 1 JUTA PER BULAN
Pabrik Pou Yuen yang ditargetkan berkapasitas produksi 12 juta pasang sepatu per tahun atau 1 juta pasang setiap bulan. Diperhitungkan sampai 2019,perusahaan ini menyerap 13.000 orang tenaga kerja.
 
GM Pou Yuen Indonesia, Prince Tee optimistis investasi dan produksi mereka akan terus berkembang seiring kebijakan pemerintah yang mempermudah aktivitas bisnis. "Investasi kami di sini sebesar USD 36 juta," katanya.
 
Menperin juga menegaskan, investasi Pou Yuen yang hampir Rp 500 miliar itu menguatkan optimisme tentang prospek dan iklim usaha di Tanah Air. Diharapkan, realisasi investasi ini semakin menarik modal lebih banyak dari asing untuk membangun basis produksi. 
 
"Merek Nike yang diproduksi di Cianjur ini juga menjadi semacam endorsement bagi industri kita. Semoga merek premium internasional lainnya juga diproduksi di Indonesia seperti Adidas, Reebok, Puma, Sechers dan lain-lain," ulas Dirjen IKTA Harjanto. (gds/edr)