19
Fri, Jan
8 New Articles

Menperin: Berguru dari Italia, Industri Kulit Indonesia Siap Mendunia

Ekonomi
Typography

MILAN, BERITA7.com - Indonesia melanjutkan kerja sama pengembangan industri kulit, alas kaki dan tekstil dengan pemerintah Italia. Kelanjutan ini dilakukan melalui penandatangan kesepakatan teknis atau Technical Arrangement kerja sama sektor kulit dan tekstil.

Menteri Perindustrian Saleh Husin menandatangani kesepakatan teknis itu di ajang World Expo Milano, tepatnya di Paviliun Indonesia. “Saya harap melalui penandatanganan Technical Arrangement ini, asosiasi dan para pengusaha Italia dapat menindaklanjuti Technical Arrangement ini dengan menanamkan modalnya di sektor-sektor kulit, alas kaki dan tekstil di Indonesia,” kata Menperin di Milan, Italia, Senin (7/9/2015).

Di Indonesia, ketiga industri itu memiliki karakteristik padat karya, padat modal, dan padat teknologi. Maka, pengembangannya diharapkan

mampu memainkan peran penting dalam peningkatan kinerja perdagangan nasional dam menyejahterakan pelaku usahanya terutama dari IKM.

Sejauh ini, produk kulit masional telah dipasarkan ke berbagai negara tujuan ekspor utama seperti Amerika Serikat, Belgia, Jerman, Inggris dan Jepang. Jumlah perusahaan penyamak kulit mencapai 67 buah, dengan kapasitas terpasang 250 juta square feet dengan tingkat utilisasi 48 persen dan tenaga kerja yang diserap 7.230 orang.

Sementara itu, industri alas kaki nasional saat ini berjumlah 394 perusahaan dengan investasi mencapai Rp11,3 triliun pada 2014 dan menyerap tenaga kerja sekitar 643 ribu orang.

Ekspor industri alas kaki terus meningkat, di mana pada 2014 nilai ekspor produksi alas kaki nasional mencapai USD4,11 miliar atau naik 6,44 persen dari tahun sebelumnya sebesar USD 3,86 miliar.

Begitu pula dengan sektor tekstil dan produk tekstil Indonesia memiliki peranan penting dalam penyumbang devisa dan penyedia sandang nasional. Industri padat karya ini juga telah menyerap tenaga kerja sebesar 10,6persen dari total tenaga kerja industri manufaktur.

“Kerja sama ini sekaligus kesempatan kita berguru, berdialog dan ke depannya menarik investasi dari Italia karena mereka berhasil menggerakkan bisnis yang berorientasi industri berbasis kulit,” ujar Menperin.

Negara ini juga dinilai sukses menggerakkan bisnis dari skala usaha kecil dan menengah hingga skala besar. Di Italia, industri berbasis kulit sebagian besar berada di daerah Vigenano, Tuskany, dan Marches.

SEJAK 2003

Rintisan kemitraan pengembangan industri alas kaki antar kedua negara ini telah dilakukan sejak tahun 2003 dengan mendirikan Pusat Pelayanan

Persepatuan Indonesia yang diberi nama Indonesian Footwear Service Centre (IFSC).

Salah satu tujuan awal pendirian pusat pelayanan tersebut adalah untuk mendukung pengembangan desain dan teknologi sepatu di Indonesia, namun karena adanya bencana lumpur Lapindo di Sidoarjo maka rencana proyek bantuan Italia tersebut belum dapat diimplementasikan.

“Proyek tersebut akhirnya dibiayai oleh Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian dan berganti nama menjadi Balai Pengembangan Perindustrian Persepatuan Indonesia (BPIPI),” jelas Saleh Husin.

Kerja sama pengembangan industri yang lebih luas dengan Italia juga dilakukan sejak tahun 2012. Fokus kerjasama di bidang kerjasama teknik dan investasi untuk produk sektor tekstil, kulit, komponen serta suku cadang dan industri teknologi tinggi.

Bentuk-bentuk kerjasama tersebut telah dituangkan dalam Memorandum of Understanding on Cooperation In The Field Of The Development Of Industrial Sectors yang ditandatangani pada 12 Desember 2014 silam.

“Penandatanganan kesepakatan-kesepakatan tersebut diharapkan dapat menjadi payung hukum bagi pelaksanaan kerjasama teknik dan investasi bidang industri Kementerian Perindustrian dengan Pemerintah Italia yang saat ini tengah kita bangun,” pungkas Saleh Husin.

Secara khusus, Menperin mengapresiasi Duta Besar RI untuk Italia, August Parengkuan, Kemenlu RI, Italian Trade Agency (ITA), Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) serta Paviliun Indonesia di World Expo Milano yang mewujudkan terlaksananya Technical Arrangement on Cooperation on Leather and Footwear Sector dan Technical Arrangement on Cooperation On Textile Sector ini.

Masih di Paviliun Indonesia, acara penandatanganan dilanjutkan Menperin dengan menggelar one on one meeting bersama Asosiasi Industri Kulit dan Alas Kaki Italia (ASSOMAC) dan Asosiasi Industri Tekstil dan Garmen (ACIMIT). Pertemuan serupa juga dilakukan Menperin dengan Chamber of Commerce Milan dan Chamber of Commerce Vicenza. Di Indonesia, organisasi ini serupa dengan Kadin.

 

FORUM INVESTOR

Kunjungan di Milan juga dimanfaatkan Menperin untuk mempererat komunikasi dengan para pengusaha Indonesia dan Italia melalui Indonesia Investment Forum yang digelar BKPM. Momen ini menjadi kesempatan untuk meningkatkan peluang kerja sama industri manufaktur antara dua negara itu.

“Kita berharap bahwa pertemuan ini akan menjadi forum konsolidasi dan sinergi peningkatan hubungan industri dengan Italia, yang kemudian akan mampu merespon tantangan ekonomi global terhadap pertumbuhan industri manufaktur di Indonesia,” ujar Menperin Saleh Husin.

Hadir pada forum itu antara lain Kepala BKPM Franky Sibarani, Presiden Italian Trade Agency, Riccardo Monti, anggota Komisi VI DPR RI Nasril

Bahar, Zulfan Lindan, Iskandar Dzulkarnain Syaichu, dan Gubernur Nusa Tenggara Barat, Muhammad Zainul Majdi.

Kepada pengusaha Italia, Menperin memaparkan fokus pengembangan industri di Indonesia yaitu mengisi kekosongan industri dalam mata rantai produksi. “Strateginya, pemerintah mendorong tumbuhnya industri antara atau intermediate industry yang akan memasok kebutuhan bahan baku dan bahan penolong industri hilir yang selama ini masih banyak diimpor,”

Beberapa industri antara yang akan didorong adalah tindak lanjut dari pengembangan industri hulu agro, industri logam dasar dan bahan galian bukan logam, serta industri kimia dasar berbasis migas dan batubara. (iwn/edr)